Saturday, October 24, 2020

Kesalahpahaman terhadap Perempuan

     
Pic: lifestyle.okezone.com  
    Wow, setelah seabad lamanya tidak menulis di blog karena tuntutan tugas ini itu yang deadlinenya suka bikin tidur tidak nyenyak, akhirnya i am comeback with my new topic. 
     Sudah 3 bulan aku di rumah dan selama itu pula aku hanya diam dan melakukan sesuatu yang menurut aku bisa mengembangkan skill walaupun tidak jarang juga aku rebahan. Di suatu hari, ibu mengajakku ke pasar dan ketika aku berdiri sedang menunggu ibu yang membayar belanjaannya, ada seorang perempuan yang menurut aku umurnya tidak jauh beda dengan ibu. 
     "Anakmu tunangan sama siapa?" tanya perempuan itu tanpa basa-basi terlebih dahulu. 
     Sebagai orang yang tinggal di desa dengan budaya perjodohan di usia muda, tentu aku tidak kaget dengan pertanyaan perempuan tersebut. Namun, aku menjadi kesal ketika perempuan itu masih mengutarakan omongan setelah ibuku menjawab kalau aku belum memiliki pasangan.
     "Jangan-jangan anakmu tidak ada yang meminang karena sibuk mencetak prestasi dan berkarir sehingga para laki-laki sungkan untuk mendekat." Lanjut perempuan itu masih dengan tatapannya yang sulit ditebak.
      Mendengar omongan perempuan tersebut membuat aku teringat akan salah satu artikel yang pernah aku baca tentang perempuan yang cerdas akan sulit mendapatkan pasangan serta perempuan yang memiliki ambisi tinggi justru dipandang tidak menarik oleh seorang laki-laki.
      "Ketika perempuan mengalahkan laki-laki dalam lingkup kecerdasan, laki-laki merasa terancam dan sisi maskulinnya menjadi luruh," ujar Park dalam sebuah artikel yang berjudul perempuan semakin pintar semakin sulit cari pasangan.source
     Sebenarnya, aku ingin sekali menjawab omongan seorang perempuan yang menatapku bersama ibuku sendiri, akan tetapi aku tau kalau dia lebih tua dari pada aku dan posisinya masih di tengah keramaian sehingga aku lebih memilih diam dan segera mengajak ibu untuk menjauhinya.
     Seorang perempuan memang sudah mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu karena semua orang sudah tahu kalau perempuan adalah calon ibu sekaligus sekolah pertama untuk anak-anaknya.             Lantas, kenapa ketika seorang perempuan mencari ilmu justru dibilang sedang membuat laki-laki minder atau dengan kata lain gengsi untuk mendekatinya?
     Seorang laki-laki yang juga Suka mencari ilmu pasti akan paham dan tidak sungkan jika perempuan yang mereka suka mempunyai karir ataupun pendidikan yang lebih tinggi dari pada mereka karena hal itu justru demi kebaikan dirinya sendiri ketika berkeluarga. 
      Di dalam sebuah keluarga, antara perempuan dan laki-laki mempunyai kewajiban untuk saling mengajari sesuatu baik dalam Hal akademik ataupun non-akademik walaupun seorang laki-laki adalah imam untuk istrinya bukan berarti semua hal dibebankan kepada laki-laki tersebut termasuk menguasai semua ilmu.
     Jika ada perempuan di luar sana yang sukses dan belum memiliki pasangan bukan berarti dia membuat laki-laki gengsi untuk mendekatinya, akan tetapi dia pasti memiliki alasan untuk tetap fokus pada karir ataupun pendidikannya sehingga tidak bisa dikatakan kalau pendidikan dan kecerdasan menghambat datangnya pasangan.

Saturday, October 3, 2020

Kekasih Baru Silung

     Sambil duduk dan main HP di surau milik keluarga, aku melihat adek sepupu yang sedang asik sendiri dengan kegiatannya yang mencuci motor. Walaupun dia adalah adek sepupuku, orang-orang selalu mengira kalau dia adalah saudara kandungku disebabkan kedekatan kami berdua yang sudah seperti cicak dan dinding. Selain itu, dia juga merupakan founding father dari panggilan "ba'ung" untukku yang akhirnya tetangga kami juga selalu memanggilku dengan ba'ung, padahal cita-cita terbesarku adalah dipanggil Yuli atau Fitri supaya tetap terdengar cantik caelahhhh🤣🤣🤣.
      
     Beberapa bulan yang lalu, adek sepupuku itu yang biasa aku panggil dengan Silung mendapat kekasih baru di dalam hidupnya berupa motor Supra dengan plat M dari saudara kandungnya. Sebenarnya, motor itu merupakan motor bekas yang sudah rusak beberapa mesinnya, akan tetapi Silung tetap menyukainya dan sangat bahagia ketika ibu membayar biaya untuk memperbaiki motor tersebut. Memang banyak tingkah aneh Silung yang tidak bisa aku pikir dengan logika, lebih memilih motor Supra dari pada Vario misalnya🤣.
.    Jauh sebelum kekasih barunya itu datang (motor Supra), Silung sudah dibelikan motor Vario oleh ibunya yang merupakan bibiku dari jalur ibu. Namun, motor Supra itu tetap menjadi juara di hati Silung bahkan dia selalu mencucinya dua hari sekali, padahal hal itu tidak pernah dia lakukan terhadap motor Varionya. Mungkin prinsip Silung adalah lebih memilih nyaman dari pada mahal dan merek.
     Selain menjadi saudara sepupu, Silung juga menjadi partner kemanapun aku pergi. Walaupun Silung adalah seorang laki-laki, aku tidak pernah mau diboncengnya dan lebih memilih untuk memboncengnya saja karena kebiasaannya dia yang suka meniru pembalap Rosi ketika naik motor.
     Silung selalu berhasil dalam merayu ibu kandungku karena buat ibu, Silung bukan hanya seorang ponakan, akan tetapi juga sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Tangisan Silung adalah kiamat untukku karena pasti tidak lama dari itu, dia akan cerita kepada ibu kalau aku mengusilinya sampai menangis sehingga aku harus siap-siap untuk mendapat surat cinta berupa nasihat atau lebih tepatnya omelan dari ibu.🤣🤣
     Beberapa hari yang lalu, paman yang merupakan ayah Silung yang berangkat sekolah menggunakan motor Supra nya karena kami mendapat kabar kalau motor Supra Silung mati di tengah jalan disebabkan mesinnya rusak. Setelah mengantarkan Silung ke sekolah menggunakan motor Vario, paman membawa motor Supra tersebut ke bengkel dekat rumah supaya mesinnya diganti. Namun, tukang bengkel tersebut tidak mengganti mesinnya melainkan mengambil bensin karena ternyata bensin motor Supra Silung ludes tidak tersisa setetes pun. Silung tetap Silung yang membuat semua orang tertawa lepas dengan kekonyolannya. 

Sunday, September 27, 2020

Suka Duka Dunia Organisasi

     Memasuki masa penerimaan mahasiswa baru tentu menurut orang-orang peran seorang kakak tingkat atau yang biasa disingkat dengan kating sangatlah penting terutama ketika disangkut pautkan dengan organisasi. Sebagai seorang kakak tingkat eaaaaakkk🤣yang sering mendapat pertanyaan dari para maba yang imut-imut tentang apakah mereka cocok ikut organisasi atau hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu membuat aku menjelaskan kali lebar kepada mereka tentang suka duka di organisasi. 
     Sebenarnya, salah satu hal yang membuat aku heran adalah kenapa mahasiswa kupu-kupu selalu dikonotasikan negatif? Dari sekian banyak temanku yang tidak organisasi, beberapa di antara mereka bahkan jauh lebih produktif dan tidak seperti pemikiran orang-orang tentang mahasiswa kupu-kupu pada umumnya yang kerjaannya hanya di kampus-rumah/kos dan berujung dengan rebahan. Para kakak tingkat yang sudah kece badai mulai mencari cara bagaimana mereka bisa mengajak adek tingkat untuk bergabung dengan organisasi karena hal tersebut memang sudah kewajiban dan juga mewadahi para maba yang tertarik dengan dunia organisasi. Namun, kembali lagi kepada keputusan para maba karena mereka memiliki hak penuh untuk mendaftar atau tidak di sebuah organisasi. 
      Sebagai mahasiswa basi yang sedikit mengalami beberapa kejadian suka duka menjadi anak organisasi, aku ingin sedikit bercerita tentang apa saja suka dukaku selama menjadi mahasiswa terutama ketika berada di organisasi.
      
      
  Bisa mengenal dan akrab dengan kakak tingkat atau teman lintas jurusan sampai dengan lintas fakultas merupakan salah satu hal yang aku syukuri karena ikut organisasi. Selain itu, liburan semester dan hari weekendku bisa bermanfaat ketika ada acara di organisasi sehingga aku tidak hanya gulang guling tidak jelas di dalam kos.
    Selanjutnya adalah ikut organisasi membuat aku merasakan hal-hal kecil sampai besar yang sebelumnya belum pernah aku rasakan seperti mengikuti acara di luar Jogja, menginap di sebuah penginapan yang salah satu fasilitasnya adalah ranjang susun karena sejak kecil, aku sudah ingin tahu rasanya tidur di ranjang susun sampai dengan menjadi panitia lomba nasional sehingga memperluas relasi.
.   Setelah berkenalan dengan hal-hal suka di dalam pengalamanku menjadi anggota organisasi, marilah kita lanjutkan dengan hal-hal duka atau lebih tepatnya resiko yang harus berani kita ambil. Resiko yang pertama adalah sebagai anak organisasi, Kita harus pintar-pintar dalam mengatur waktu. Sejak dulu, aku selalu menanamkan prinsip supaya organisasi tidak mengganggu kuliah. Hal itu tidak sulit untuk dilakukan bahkan organisasi bisa menunjang akademikku yang salah satunya adalah semakin membuatku percaya diri untuk berdiri di depan teman-teman ketika presentasi mata kuliah.
.   Yang kedua sekaligus yang terakhir adalah harus berani berkomitmen dan mengemban amanah dengan baik serta siap untuk merasa lelah dan menhan kantuk walaupun sebenarnya kita sering kali tidak percaya terhadap diri sendiri. Selain itu, hal terbesar yang membuat aku lupa akan hal-hal duka adalah bertambahnya pengalaman ketika ikut organisasi, and I would like to say that I am nothing without my organization.
     Once again, setiap orang mempunyai hak atas pilihannya masing-masing terutama tentang apa yang akan mereka ikuti dan tidak. So, define your own success. 
Selamat berjuang everyone😁.
     

Thursday, September 24, 2020

Drama Lawas KRS

     Selama menjadi seorang mahasiswa, memasuki semester Lima di fakultasku merupakan masa di mana mahasiswa dipenuhi dengan hal-hal krusial yang salah satu contohnya adalah ketika masa input kartu rencana studi atau yang lebih dikenal dengan KRS. Seandainya KRS bisa diinput secara offline, mungkin hal itu tidak akan membuat jantung menjadi copot. Namun, di zaman yang sudah modern dan serba digital ini ditambah dengan pandemi, maka KRS harus diinput secara online oleh mahasiswa dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh kampus.
     Jadwal penginputan KRS memang cukup lama sekitar empat sampai lima jam, akan tetapi jika kita menginput KRS di detik-detik berakhirnya jadwal, maka aku jamin kalau mata kuliah sudah banyak yang penuh terutama mata kuliah pilihan.
     Karena sudah sering mendengar cerita horor kating dan teman-teman tentang drama KRS, maka H-29 jadwal input KRS prodiku, aku sudah mulai menghubungi kating dan teman-teman untuk bertanya cara menginput KRS dengan baik dan tentunya mendapat kelas yang diinginkan. Semua orang yang menjadi korban pertanyaanku sangat sabar menjelaskan rahasia-rahasia jitu yang bisa aku pakai supaya lancar menginput KRS.
      Selain sistemnya yang "siapa cepat dia yang dapat", salah satu kendala input KRS adalah jaringan yang suka tidak bersahabat lebih-lebih apabila sedang padam listrik. Walaupun begitu, banyak pembelajaran dan tips yang aku dapatkan selama persiapan menginput KRS.
      Pertama, sebelum hari H input KRS, pastikan kalau kita sudah menyusun jadwal sesuai jam dan kelas yang kita inginkan. Sebenarnya, kita bisa skip tips ini selama paham kelas dan dosen yang mengampuh setiap mata kuliah.
      Kedua, jangan pernah sungkan untuk bertanya kepada dosen penasihat akademik atau TU jika kita masih bingung atau ada hal-hal di akun akademik kita yang tidak sesuai dengan punya yang lain. Sebelum hari input KRS tiba, aku juga meminta teman-teman untuk menjelaskan semua tentang KRS. Namun, aku juga memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada dosen atau TU karena terkadang sebelum menginput KRS, kita harus mengikuti langkah yang lain. 
      Ketiga, jangan pernah sungkan untuk konsultasi bersama kating atau teman-teman kita yang sebelumnya sudah berpengalaman dalam menginput KRS. Selain konsultasi tentang KRS, aku juga konsultasi tentang mata kuliah yang akan aku ambil karena bagaimanapun, mata kuliah adalah hal yang paling penting Kita siapkan sebelum masuk kuliah.
     Tips yang terakhir adalah pastikan kalau jaringan kita aman. Berdasarkan pengalaman beberapa temanku, kita juga bisa memakai dua atau tiga HP untuk mengisi KRS karena terkadang, jika sistem akademik eror di HP yang satu, maka masih ada kemungkinan lancar di HP yang lain.
     Walaupun input KRS sangat penting, jangan sampai KRS membuat kita renggang bersama teman-teman kita loh yaa! Karena walaupun sistem KRS adalah rebutan, jangan pelit-pelit untuk menyebalkan atau menjelaskan informasi KRS kepada teman-teman yang belum paham.

        

Wednesday, September 16, 2020

Kang Adi dan Lengkong Press

   Diam di kos dan berteman dengan semut-semut yang entah keluar dari mana membuat aku sangat senang ketika salah satu senior mau mengajakku bertemu dengan pak Edi Ah Iyubenu di kafe barunya beliau yang lokasinya tidak jauh dari kos.
    Sebagai mahasiswa rantauan dan penghuni kos an yang belum memiliki motor membuat senior yang biasa aku panggil dengan kang Adi harus menjemputku terlebih dahulu ke kos.
    Kang Adi adalah senior bersejarah urutan kedua setelah Michael yang berhasil mengajakku bertemu dengan teman-teman alumni pesantren yang lain.      Aku menganggap hal itu sebagai suatu sejarah mengingat bagaimana sifatku dulu yang masih sangat malas untuk bertemu dengan orang banyak disebabkan sifat malu.
    Kang Adi juga berasal dari Madura, lebih tepatnya beberapa kilometer dari pesantren dimana aku pernah menuntut ilmu. Lengkong, sebuah desa yang tidak asing aku dengar namanya karena beberapa temanku juga berasal dari sana sekaligus juga desa kang Adi.
    Setelah sampai di kafe pak Edi, aku dan kang Adi harus menunggu beliau sekitar dua jam karena pak Edi masih ada di kafenya yang lain. Karena kami juga tidak sedang buru-buru, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu beliau sambil mengobrol ditemani oleh secangkir teh milikku dan secangkir kopi milik kang Adi.
"Aku sangat suka dan penasaran cara berbisnis seperti pak Edi Yul."
"Kalau aku sih lebih penasaran sama literasinya pak Edi kang."
"Iya, itu juga bagus. Aku sampek pernah nge design logo buat bisnisku loh." Kata kang Adi sambil menunjukkan logo berwarna merah maroon dengan tulisan "Lengkong Press" di bawahnya.
    Tanpa diberitahu pun, aku tahu kalau kata Lengkong itu diambil dari nama desanya kang Adi sendiri. Aku tersenyum bangga melihat logo itu dan entah kenapa aku bilang terhadap diriku sendiri kalau kang Adi pasti bisa menjadi orang dengan bisnisnya yang sukses.
    Aku belum bisa meniru kang Adi yang penuh dengan keunikan itu karena dari jiwa bisnis saja, aku belum mempunyai ketertarikan terhadap hal tersebut. Namun, berkali-kali aku juga bilang kepada diriku sendiri that we can shine with our own ways.
"Kenapa tidak berbisnis di Madura saja kang?" tanyaku kepada kang Adi yang baru saja menyeruput kopi di depannya.
"Doakan saja Yul." Jawab kang Adi tersenyum sambil memperbaiki kacamatanya.
    Aku punya banyak teman yang memang mendalami dunia bisnis, akan tetapi hanya beberapa di antara mereka lah yang berani mengembangkan bisnisnya dengan cara yang unik, membuat logo misalnya.
    Kurang lebih satu bulan setelah obrolan kami malam itu, aku tidak bertemu dengan kang Adi karena pulang kampung. Ketika sedang menscroll beranda Facebook, tiba-tiba ada satu notifikasi yang berhasil membuat aku kaget. 
Lengkong Press mengundang anda untuk menyukai tautannya.
    Begitulah kira-kira isi notifikasi yang tanpa menunggu waktu segera aku klik tombol like. Aku tersenyum sekaligus bangga karena ternyata Lengkong Press milik kang Adi sudah mempunyai akun sosmed bahkan bergabung di toko online.      Progress seperti itu menjadi bukti bahwa kang Adi memang berkomitmen untuk mengembangkan bisnisnya dan bukan hanya sebagai hobi. 
"Kang, nanti aku bikin tulisan ya soal kang Adi dan Lengkong Press." Kataku lewat chat yang ku kirimkan setelah melihat story nya di sosmed sehingga muncullah tulisan yang sedang kalian baca ini tentang bagaimana uniknya cara kang Adi dalam berbisnis sehingga berkembang dengan pesat. 
    Hasil memang tidak akan pernah mengkhianati proses dan orang pintar akan kalah terhadap orang yang tekun. Proud of you Kang. Mantap.

Monday, September 14, 2020

Mengelilingi Kota yang Sesungguhnya

     Setelah sekian lama tidak sowan ke pengasuh pesantren dimana dulu aku menuntut ilmu, di weekend kemarin emmak mengajakku untuk pergi sowan bersama-sama. 
     Ketika emmak mengajakku untuk pergi sowan tepat saat H-3, aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan pengasuh dan juga teman-teman di pesantren.
    "Nanti kita mampir ke kota dulu Yuk sebelum berangkat dan pulangnya juga mampir ke sana karena emmak mau membeli kacamata." Kata emmak sambil mengingat kacamatanya yang rusak karena jatuh.
    Mendengar kata kota membuat aku diliputi perasaan khawatir yang luar biasa. Selama 20 tahun menjadi warga kabupaten Sumenep, aku tidak pernah hafal jalan kota walaupun sebenarnya jalan kota di kampung halamanku tidak seribet dengan jalan kota-kota besar.
    "Tapi, emmak tahu kan jalan ke toko yang emmak tuju?"
    "Iya tahu. Nanti emmak tunjukkan." 
    Aku tetap tidak bisa menghilangkan perasaan khawatir tersesat ketika sudah berangkat nanti walaupun emmak lebih hafal jalan menuju kota.
    Pagi-pagi sekali aku dan emmak sudah berangkat karena perjalanan dari rumah ke pesantren harus ditempuh kurang lebih selama dua jam ditambah dengan mampir ke toko yang ingin emmak datangi.
   "Dimana tokonya emmak?".
   "Sebentar Yul. Kita berhenti dulu."
Hmmmm
    Perasaan khawatirku menjadi kenyataan, ternyata emmak juga sedikit lupa jalan kota. Aku menatap emmak dan mulailah emmak tertawa melihat mukaku yang sudah mulai tidak enak untuk dipandang. 
    Setelah bertanya kepada orang-orang di pinggir jalan, emmak berhasil menemukan tokonya dan kami segera berangkat menuju pesantren.
   Selama perjalanan ke pesantren, emmak selalu bilang kalau ia sangat senang karena akhirnya bisa membeli sesuatu yang sudah sangat ia inginkan sejak lama, yaitu minyak pijat. 
   Emmak memang sangat suka membeli minyak pijat karena pijatannya yang sangat enak membuat orang-orang selalu memintanya untuk memijat mereka. 
  "Memangnya di pasar dekat rumah tidak menjual minyak kayak gitu po mak?"
   "Ada kok, tapi harganya lebih mahal. Kalau di kota 150 ribu perbotol, tapi kalau di rumah 151 ribu."
   "Ya Allah. Mending beli di rumah aja mak dari pada harus berkeliling di kota kayak tadi." Ucapku dalam hati melihat emmak dari kaca spion motor yang dibalas dengan senyuman usil oleh emmak.
    Emmak memang sangat suka membeli sesuatu yang lebih murah dengan syarat kualitasnya juga sama-sama bagus walaupun lokasinya sangat jauh. 
     Kapan aku bisa meniru emmak yang sangat hemat ya rabb?
     Suasana pesantren memang sangat berbeda dengan suasana di luar. Banyak hal yang aku dapatkan termasuk kedamaian. 
    "Ehh ada mbak Yuli dan ibunya. Bagaimana kabarnya?" Dawuh ny.Fadhilah yang merupakan pengasuh pesantren.
    Emmak memang akrab dengan beliau bahkan ketika aku sowan sendirian pasti ny.Fadhilah tetap menanyakan kabar emmak.
    "Mbak Yuli nginap di sini ya. Nanti mengajar anak-anak Engenia di sini." Lanjut beliau.
    Aku hanya tersenyum bahagia dan menjawab dengan kata insyaAllah karena sebenarnya, aku juga sangat ingin menginap di pesantren. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri untukku ketika diberikan kepercayaan oleh pengasuh sendiri.
    "Bagaimana Yuli, nulis nggak?" Dawuh K.Naqib yang baru selesai menemui tamunya.
Deggggg
"Iya ustad. Insya Allah istiqamah nulis."
"Bagus. Nanti kirim ke sini ya."
     Ingin rasanya aku berteriak kegirangan ketika mulai menemukan semangat untuk menulis kembali hanya karena pertanyaan dan semangat dari pengasuh pesantren.
    Literasi di pesantren memang belum banyak dikenal masyarakat karena medianya masih terbatas. Namun, soal skill menulis mereka tidak usah diragukan lagi. 
   Setelah sowan ke pengasuh (ny.Fadhilah&K.Naqib), aku tidak lupa untuk mampir ke teman-teman yang masih tinggal di pesantren.
    Beberapa di antara mereka sudah ada yang menjadi pengurus pesantren.
    "Syukurin. Suruh siapa dulu sering melawan pengurus, endingnya kena karma lo dan menjadi pengurus." Ledekku melihat mereka yang baru selesai bercerita tentang suka duka menjadi seorang pengurus.
    "Heleh...dulu, kamu juga lebih parah dari kita kok, cuma kebetulan kamu kuliah di luar mangkanya tidak mendapat karma dari pengurus." Jawab mereka tidak mau kalah.
Ambyarr rekk😂🤣.
    Emmak memandangku dengan ekspresi yang menuntut penjelasan karena aku baru ingat kalau emmak baru mengetahui sisi aku yang pernah menjadi ketua geng pelawan pengurus waktu di pesantren😂.
    "Dulu, Yuli sering melanggar peraturan mak, tapi semua itu dia lakukan karena membela club bahasa Inggrisnya (Engenia) yang selalu dipandang sebelah mata oleh pengurus." Ujar Lia yang tidak lain teman kelas sekaligus teman di pesantren. 
    Aku mulai bisa bernafas dengan lega karena akhirnya bully an mereka berakhir dengan pembelaan😂.
"Jangan lupa belok kiri."
"Jangan lupa belok kanan."
"Lurus saja."
     Emmak masih setia menunjukkan jalan menuju pasar kota dimana ia mau membeli jamu kesukaannya. Selain tidak hafal jalan kota, salah satu sisi kelemahanku adalah tidak bisa mengetahui arah mata angin ketika pergi kemana-mana termasuk Sumenep kota sehingga emmak selalu memakai kata kanan dan kiri ketika menunjukkan jalan.

Wednesday, September 9, 2020

Muda dan Dewasa

     Beberapa hari yang lalu tepatnya setelah salat Isya' aku menghubungi sahabatku yang sedang ada di Jogja lewat telfon seluler supaya tidak terganggu oleh jaringan jika menggunakan WA atau pun IG dan aplikasi lainnya. 
    Baik aku ataupun sahabatku sama-sama jarang mengirim pesan satu sama lain kecuali ada hal yang ingin didiskusikan ataupun dicurhatkan. 
     Waktu itu, aku menghubunginya karena memang ingin menumpahkan segala sesuatu yang di dalam pikiranku selama seharian. Aku mulai bercerita mulai dari A sampai Z dan sahabatku yang biasa aku panggil dengan Ifan itu hanya setia menyimak. 
     Di hari itu, aku disuruh oleh ibuku untuk menghadiri acara walimatul akikah di rumah kerabat jauh. Selama ada di rumah, aku memang sedang melakukan puasa dari mendengar atau membaca masalah yang sedang terjadi di negara dan juga lingkungan sekitar. Ketika aku sudah berkumpul bersama orang-orang yang juga kondangan ke tempat yang sama, puasa yang aku lakukan mulai batal.                Sudah bukan merupakan rahasia lagi ketika ada ibu-ibu sedang duduk bersama, maka gosiplah yang mayoritas mereka lakukan. Seorang perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatku bercerita tentang masalahnya yang sedang tidak akur bersama tetangganya sendiri akrena beberapa hal. Perempuan yang lain juga bercerita tentang bagaimana suami mereka mulai sering keluyuran kemana-mana. Penyebab utama dari masalah yang mereka ceritakan adalah karena kesalahan dalam menggunakan media sosial. 
    Aku memang sudah tidak heran jika hal itu yang merupakan penyebabnya karena di zaman sekarang ini, semua orang baik yang tua atau muda, miskin atau kaya, sekolah atau pengangguran sama-sama mengoperasikan yang namanya media sosial. Sesuatu yang berbeda dari semua itu hanya lah bagaimana mereka pintar-pintar memanfaatkan media sosialnya masing-masing. 
    Salah satu contoh dari orang yang bisa mendapat atau membuat masalah dari media sosial adalah ketika mereka tidak bisa menyaring hal-hal yang akan mereka publikasikan kepada media sosial dan tidak.
    Mungkin memang banyak alasan dari mereka yang memposting salah satu privasi mereka ke dunia maya adalah karena mereka merasa ada yang peduli dengan mendapatkannya komen di kolom komentar. Namun, setidaknya menjadi pelajaran untukku pribadi yang memang pernah menjadi bagian dari orang yang selalu memposting segala sesuatu ke media sosial untuk melakukan taubat nasuha dari semua itu :). 
    Setelah mendengar cerita dari para ibu-ibu itu, otakku mulai tidak berhenti berpikir tentang masa depan. Aku menjadi takut bagaimana jika aku menjadi bagian dari orang-orang yang tidak bisa menggunakan media sosial yang baik, bagaimana jika kerjaanku cuma bisa bergosip bahkan sampai bagaimana menjadi perempuan yang memang pintar membangun batasan. 
    "Bukan media sosialnya yang salah, tapi usernya yang belum sadar." Kata Ifan setelah aku menumpahkan semua isi di dalam pikiranku. 
     Aku sangat setuju dengan perkataan Ifan itu karena bagaimanapun juga, media sosial dan segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai dampak positif dan juga negatif masing-masing. 
    "Si A suka ngomongin orang." Kata seorang perempuan di hari berikutnya ketika aku secara tidak sengaja bertemu dengannya di toko sayur. 
     Aku hanya tertawa geli mendengar omongan perempuan itu karena dia tidak sadar kalau dirinya sendiri juga sedang menggosipkan orang.:) 
 Dunia memang penuh dengan orang-orang yang kadang tidak menyadari sifat dan perilakunya sendiri.