Sunday, February 19, 2023

"How If?"

"Will I give up now?"
"How if I fail?" 
Oh God, this is too hard for m, and I can't handle this"
Some thought of mine from the first January - right now. I know that everyone is struggling with their own journey, but in this year, God really showed and taught me that is never easy. This dunya is only a place to see how patient we are to face all of these challenges. 
"Why was she fine and had a better journey than me?" 
The second problem of mine is I couldn't stop to compare my self with others. But again, life is a process. Day by day, I compared my self, and then I was grateful, and it was repeated in the next day till I realized that Allah SWT will never give the same portion for his slave. Allah SWT knows the best.
I was busy with my work. Everyone knows that my schedule is full, but they never knew how I handle all schedules. They never knew how hard for me to give "me time" for my self, and they never knew that I am doing this because I need it. 
Did I ever feel lonely? The answer is totally yes. It was almost everyday for me to feel lonely, but I guessed that it was not really hard for a person who has an introvert side like me.
Well, sometimes life is too complicated and full of problems, but don't ever forget that you are not the only one person who got the challenges, so just face it and be patient. Trust me, You Will shine. 

With love
Yuli

Saturday, February 4, 2023

The Lowest Month

Talking about 2023, and now is still February. It means that I've just passed my January. I can't describe how hurted i am in January, but I can't also describe how those pain taught me so much strenght. Sometimes I just wanna be animal who do not think about something, but you know that's Impossible. January taught me some lessons below.
First, January taught me that I am not ready to fall in love again. If you are in a situation where you can not understand people whom you love, so we are on the same boat. I don't know is this normal or not, but I guess everone will feel it in different time. I am afraid of falling in love, I am afraid of knowing a new guy, I am afraid of talking with boys about my privacy, and yess I just trust my best friend to hear about this till they said "Every feeling is real and you don't need to deny it".
Second, January taught me about failure. For the first time in my 2023, I got failure in my academic. Was I sad? Of course YES. I felt so broken heart after looked at the announcement, and I cried till I didn't teach during two days. "Success and failure are the color of your journey" My mom said via telephone while comforting me. It was not success till one day, I stayed alone and did my reflection while remembering my mom and something that happened in the latest of my life. I realized that I got failure more than once, and see I still got my dream, so now I believe that every struggles will give you sweet results. besides, the most important thing to remember is you do not compete with other people, but you compete with your own self.
And the last, January taught me that now is already the time for me to think about not only my self, but also my mom. You know, what I mean is not about one thing, but it's about everything (Financial, Health, Happiness, and Decision). I can't tell how hurted I am at that time when I was faced with the worst thing in my family. I cried like I don't care people will listen or not. I told my self for giving up, but my mind denied it.
Last but not least, I just wanna tell my self and everyone who is in the lowest moment now that God will never leave you even when you don't have someone to hug you. Remember Allah is with you.๐Ÿค—

Sunday, January 8, 2023

Knowing my Self

When I was 21 and 22 years old, I thought that knowing ourselves is not really important because at that time, I don't face any hard challenges. But day by day, I realized that knowing my self is the most important thing in my life. Well, it can be started from a question "what do I want in my life?". Well, maybe if U answered this question, it can be answered that I want to be an independent girl, I want to be a lecturer, I want to be a great and good woman, and I want to be a good woman. But how if I can't achieve those dreams? How if I fail? One day, I got a failure in my life when I was seventh semester. I was confused about something that I must do at that time. Sometimes my mind guided me to cry for the whole day to express my sadness. Meanwhile, on the other side, my mind also guided me to be a strong girl and to hold on my tears. Those two things are reversed, aren't they? And can you imagine how hard I am to know what I really wanted to do at that time? From that experience, one thing that I can tell my self that knowing my self is really really important especially about my own emotions. Here are some points that become parts of my life, but I've just realized about it.
1. I dislike to get a rejection
Since I was a child, I used to cry and feel so broken heart if my mom forbad me to follow her to the market or shop. Right now, I still felt it even for a small thing, e.g my friends didn't want to go to a place, but now I realized that everyone has their own business.
2. I dislike failures
For this one, I guess everyone feels it too, but the problem is I used to blame my self for every failures that I got.
3. I am too hard on my self
I guess, everyone realizes it too wkwkwk. Yes, I realized that sometimes I was too hard on my self. I will do my assignment although I am tired, sick, and feeling burnout
4. I always make other people as a priority
Every I meet other people, I used to tell my self to make them as a priority till I didn't realize that I often hurt my own self.
5. I am afraid of losing people whom I love
Being a single child is such a privilege sometimes, but not for this one. When I find people whom I love, I will love them so much till I didn't realize that everyone can change either because of the situation or other reasons.
From those points, now I know how to overcome my own emotion and love my self more and more, so by that way, I can make other people whom I love happy including my mom

Sunday, October 9, 2022

Mencatat Pengalaman Kerja


Hello everyone... long time no greet you all๐Ÿ™Œ
     Setelah melewati minggu-minggu yang super duper hectic dengan semua drama kerjan, ngajar, rapat, persiapan cita-cita pribadi, sampai dengan drama jam tidur dan mood makan yang berantakan dan finally I can write my own story in this blog again. 
     Selama sibuk dengan kerja dalam beberapa bulan terakhir, ternyata ada hal baru yang aku sadari. Adapun hal baru tersebut adalah kebiasaanku yang perfeksionis dan ambis mulai sangat dan sangat terlihat. Menjadi orang yang ambisius dalam dunia kerja ternyata melelahkan akan tetapi, jiwa ambisius tersebut seperti sudah mendarah daging dalam tubuhku. 
     Berbicara jiwa ambisius, ada satu hal yang ternyata juga baru aku sadari. Suka bekerja dan melakukan banyak kegiatan yang merupakan kebiasaanku ternyata tidak semata-mata tumbuh dari dalam diriku sendiri melainkan juga karena sejak kecil yang aku lihat dari ibuku adalah seorang ibu yang selalu bekerja tetapi tetap bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik.   
     Sejak bangun dari tidur di pagi hari, ibu selalu bekerja mulai pergi ke ladang, mengikuti pengajian ibu-ibu, takziah, pergi kondangan, sampai mengurus anak tunggalnya yang selalu merepotkan yang tidak lain adalah diriku sendiri hahaha. Suatu hari ketika ibu pulang dari belanja di pasar, ibu langsung siap-siap untuk melakukan kerjaan yang lain. 
     “Kayaknya ibu udah mati rasa terhadap rasa capek” batinku melihat ibu yang 24/7 rasanya penuh dengan kerjaan. 
       Jika melihat ibu tidur, maka itu hanya di malam hari. Apakah kesibukan ibu tersebut membuatnya tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan jam tidurnya berantakan? Jawabannya adalah TIDAK. Prinsip kerja di siang hari dan tidur di malam hari adalah prinsip yang sangat ibu terapkan dalam hidupnya. Walaupun ibu tidak penah mengatakan hal tersebut, akan tetapi aku bisa melihat implementasi prinsip tersebut dalam hidupnya.
     “Bekerja itu harus karena perempuan juga mempunyai hak untuk bekerja baik didalam rumah maupun diluar rumah” nasihat yang dikatakan ibu suatu hari kepadaku ketika aku mau kembali ke Jogja. 
       Dunia kerja memang masih sangat asing buatku tetapi dengan bekerja, aku juga menemukan banyak pelajaran yang mungkin tidak ku temukan teorinya selama duduk di bangku S1. Walaupun bekerja bukan tujuan utamaku, akan tetapi bekerja juga mendukungku untuk mencapai sesuatu yang ku inginkan. Kecintaanku terhadap dunia kerja juga tidak hanya muncul dari diri sendiri melainkan juga karena lingkunganku yang sepertinya tidak pernah diam.

Wednesday, August 10, 2022

Life After Graduation

     
      Biasanya hal pertama yang aku lakukan setelah bangun tidur, beres-beres kamar dan sarapan adalah mengerjakan skripsi. Anak semester akhir sekali bukan Hahaha. 
     By the way, kebiasaan itu sudah tergantikan kebiasaan lain dimana kehidupanku setelah lulus dari S1 adalah kehidupan di dunia kerja. Long story short, aku berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai impianku where I want to work as a teacher, tetapi mimpiku buat menjadi dosen tetap dong, cuma i need time to continue my study first. 
      Untuk mendapatkan pekerjaan ini menurut orang-orang gampang, padahal they don't know the journey. Walaupun it's such a special gift for me dimana aku tidak perlu melamar even aku diminta buat ngajar karena relasi sebelumnya ketika aku menjadi asisten dosen, I still need time to adapt with my new habitual action. Masuk kerja tiga dalam seminggu membuat aku bisa mengerjakan pekerjaan lain seperti mengajar private or even masih bisa menikmati me time kalau sudah bornout tingkat dewa. Namun, di tulisan kali ini bukan hal itu yang ingin aku bahas, melainkan aku ingin bercerita bagaimana cerita-cerita yang dulu hanya biasa aku tonton di YouTube or TikTok dan sekarang menjadi kenyataan didalam hidupku haha. 
    what is that? 
      Sudah tidak asing lagi buat para alumni mahasiswa yang memasuki dunia kerja atau melanjutkan studi pasti akan merasakan yang namanya sulit bertemu teman-teman karena kesibukan yang mulai berbeda. Disaat seperti ini, ingin rasanya aku berterimakasih yang tidak terbatas buat penemu HP sehingga ketika aku pengin curhat atau sekedar ingin bertanya kabar teman-teman, kami tetap bisa komunikasi lewat sosial media. Namun, bukankah bertemu secara langsung itu lebih enak? Ya betul, tetapi memaksa orang lain untuk selalu stay disamping kita bukankah itu egois? Begitupun dengan kita yang mungkin juga tidak selalu 24/7 ada disamping mereka or even melakukan chat tiap saat bersama mereka. 
      Tadi pagi, untuk pertama kalinya setelah aku lulus dari kampus, aku menghadiri wisuda teman-teman seangkatan. Antusias, itulah perasaan pertama yang aku rasakan sebelum berangkat ke kampus. Setiba di kampus, aku melihat wajah-wajah teman yang sepertinya tidak memiliki beban, tetapi siapa sangka ketika kami bercerita satu sama lain, ternyata diantara mereka juga ada yang masih berjuang dengan mencari pekerjaan, resign dari tempat kerja, dan ada juga yang masih sibuk dengan mencari jati diri. 
       Mendengar cerita mereka, aku jadi yakin tentang satu hal bahwa semua orang itu berjuang di jalannya masing-masing. Mungkin saat ini jalanku, jalanmu, atau jalan kita memang masih berliku-liku, tetapi bukankah itu yang akan menjadi kenangan manis ketika kita sukses. Apapun pahit manisnya, tetap berjalan dan yakin that we will shine.

Friday, April 1, 2022

Perjalanan Mendapat Gelar S.S

      
 2 tahun ini mulai 2021 sampai 2022 terasa berjalan dengan sangat cepat. Tahun 2021 dimana aku masih menjalani aktifitas sebagai mahasiswa s1 yang berusaha menyibukkan diri di organisasi dan tidak lain kerjaannya adalah rapat, menjalankan program kerja, dan menyetor laporan kegiatan sambil mengerjakan skripsi tiba-tiba sudah pindah ke 2022 dimana statusku sudah menjadi calon alumni kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semuanya terasa berjalan dengan sangat cepat walaupun dibalik perjalanan itu, banyak tangis, tawa, kehilangan, dan penyambutan yang juga terjadi. Hal yang sangat memoriable buatku di tahun 2021 adalah proses proses pengerjaan skripsi dimana pada tanggal 22 September 2021, aku mengikuti sidang proposalku dan menjadi mahasiswa pertama di angkatan 2018 yang waktu itu nekat sidang proposal padahal aku sedang berlibur bersama sahabat-sahabatku di kota Bangkalan, Madura. 
      Setelah sidang proposal selesai, aku mulai mengerjakan skripsi dengan sangat-sangat ngebut sehingga pada tanggal 28 Oktober 2021, aku berhasil menjadi salah satu pembicara di konferensi internasional. Topik yang ku bawa waktu itu adalah skripsiku sendiri. Kemudian, pada tanggal 24 Januari 2022, aku melakukan pra-sidang skripsi karena sidangku sudah dihitung waktu acara konferensi internasional dan diganti dengan desk evaluation. 
      Selama pengerjaan skripsi, aku belajar banyak hal, mulai dari harus mandiri, konsisten, kuat lahir batin, sabar, dan juga bodo amat. Tuntutan untuk menjadi mandiri dalam dunia mahasiswa benar-benar aku rasaakan ketika mengerjakan skripsi. Tidak ada teman atau sekalipun ada hanyalah teman dekat yang mau untuk berproses bersama, wara-wiri ke kampus bersama, dan juga mengejar target bersama. Saat mengerjakan skripsi, aku juga lebih sering pergi ke Psikolog untuk hanya sekedar bercerita tentang perjalananku sebagai mahasiswa semester akhir. Banyak ekspektasi yang aku terima, tetapi orang-orang tidak pernah tau tentang tantangan dan kendala yang sebenarnya waktu itu aku jalani. 
      Selain berjuang dengan perasaan - perasaan diatas, dalam perjuangan untuk menyelesaikan s1 ini, aku juga harus berjuang untuk mendapatkan skor TOEFL 500 karena merupakan syarat untuk mendaftar sidang (khusus program studi Sastra Inggris). Kegagalan-kegagalan dalam tes TOEFL, pulang kampung saat sedang mengerjakan skripsi untuk merawat ibu yang sedang sakit, menangis ketika capek karena harus konsisten setiap hari berkutat dengan skripsi, menangis karena terkadang tidak bisa bimbingan karena ada beberapa kendala baik dospem yang sedang ada acara atau kendala yang lain, sampai menangis karena beberapa anggota keluarga meninggal saat aku sedang mengerjakan skripsi merupakan momen yang sangat-sangat aku ingat hingga detik ini dimana aku menulis tulisan ini.
      Semua perjalanan dan tantangan yang aku dapatkan selama menjadi mahasiswa semester akhir tidak pernah aku sesali karena semua itu adalah prosesku untuk menjadi dewasa dan menjadi lebih kuat. Now, I did it. I did it greatly. I already become one of the alumnus of my major, and one of my happiness is that my lecturer choose me to be their assistant in teaching. What a beautiful gift from Allah SWT. Besides, I can also reach my dream to be a cumlaude student, and yaaa I get it. The main point that I want to deliver in this writing is DO NOT EVER GIVE UP, DO YOUR BEST. Ingat, Allah SWT akan selalu bersamamu dan pasti akan ada jalan di setiap mimpi.


Saturday, February 19, 2022

Ekspektasi yang Membunuh

    
     Beberapa orang berbahagia atas datangnya tahun baru. Beberapa orang lainnya justru mulai resah karena banyak hal yang belum mereka capai di tahun sebelumnya. 
   Sebelumnya, aku ingin minta maaf kepada kalian yang sudah setia membaca blogku karea aku sudah lama tidak mampir di blog yang merupakan diary kesayanganku ini. Hal tersebut tidak lain karena sibuknya aku sebagai mahasiswa semester akhir yang akhirnya sekarang sudah bisa terlepas dari kekangan skripsi. Yes, I did it well.Thank you everyone for all supports and prayers.
    Kembali ke topik utama hehe, jadi beberapa harri terakhi, aku memang jarang kumpul bersama teman-temanku karena kesibukanku sebagai guru private dan freelancer sehingga aku hanya bisa mengandalkan sosial media untuk berkomunikasi dengan mereka. Jarangnya pertemuan itu pun membuat aku kurang tau perasaan orang-orang tentang kehidupan mereka sampai suatu hari seorang teman bercerita kalau dia sedang mengalami quarter life crisis. 
    Quarter life crisis secara singkat merupakan perasaan cemas akan masa depan. Berdasarkan ceritanya tersebut, aku menyimpulkan bahwa kecemasannya tersebut tidak murni karena perasaan dia sendiri melainkan karena ada tuntutan dari eksternal. Why did I say that? karena di zaman sekarang, terlalu banyak orang yang ber ekspektasi kepada orang lain dan temanku merupakan salah satu korban dari ekspektasi orang-orang di sekitarnya.        Di umurnya yang sekarang, orang-orang mengatakan kalau harusnya dia sudah menemukan pasangan hidup, memiliki karir yang sangat  menunjang biaya hidupnya, memiliki keluarga yang selalu me support prosesnya dan masih banyak ekspektasi lain yang diberikan kepadanya.
     Mendengar ceritanya tersebut, aku juga ikut prihatin karena ternyata ekspektasi orang terhadap orang lain justru bisa membuat orang lain jatuh sejatuh-jatuhnya. Karena ekspekttasi tersebut, akhirnya orang yang bersangkutan tidak bisa menikmati perjalanan hidupnya, tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan sampai tidak bisa mengenal dirinya sendiri dari saking sibuknya memenuhi ekspektasi orang lain. 
    Sambil  membantu temanku untuk keluar dari zona tersebut, aku mulai meyakinkan diri sendiri untuk tidak sibuk terhadap ekspektasi orang lain dan fokus terhadap keinginan dan pencapaian untuk membahagiakan orang-orang tersayang.